Kumpulan referensi tugas dan contoh skripsi

Jumat, 29 April 2016


Kritik Seni 2

Heri Dono, 2012, Selametan Superhero, 120x150 cm
Akrilik pada kanvas

Deskripsi Karya
            Lukisan “Selametan Superhero ” karya Heri Dono yang di buat pada tahu 2012 ini berukuran 120x150 cm digarap menggunaka akrilik di atas kanvas, lukisan ini menampilka subjek matter berupa 8 sosok manusia figuratif yaitu 7 sosok superhero dalam dan luar negeri dalam pusisi seolah-olah duduk dan mengelilingi satu sosok di tengah dengan kondisi berbaring. Keadaan itulah yang menggambarkan dimana sedang dilakukan acara slametan denga cara duduk mengelilingi satu sosok yang di gambarkan berupa sosok Semar yang sedang terbaring diantara ke tujuh sosok lainnya. Subjek matter cenderug didominasi warna biru, merah, hijau dan juga terdapat warna hitam pada latar belakangnya atau background.
            Dilihat dari tekniknya, pelukis menampilkan sosok manusia denga pengungkapan menggunakan gaya dekoratif dimana manusia digambarkan hanya berupa sosok saja tanpa memperhatikan proporsi dan struktur secara terperinci. Dalam prosesnya pun terlihat penuh dengan keceriaan melihat banyaknya sosok yang dapat tercipta, warna yang digunakan juga mencerminkan keadaan jiwa dari sang pelukis sendiri. Dibalik kesemuanya itu pasti tersirat makna yang dicoba ditebak oleh penikmat lukisan ini, sebenarnya apa yang diinginkan dan apa yang ingin di ungkapkan melalui karya yang demikia.

Analisis Formal
lukisan Hedi Dono berjudul “Selametan Superhero” terdiri dari garis-garis kontur yang amat jelas, yaitu garis-garis nyata yang merupakan gambar garis seperti spiral, lurus, yang memang berwujud garis. Sedangkan garis semu bisa dibentuk dari pertemuan antara warna bidang, ruang dengan objek , dan juga garis kontur pada setiap obyek. Garis-garis tersebut amat jelas dan mudah teramati, apalagi bila setiap unsur garis digambarkan sebagai garis nyata. Begitu juga bidang (space) yang merupakan bentuk di luar obyek mempunyai besaran yang tidak sama. Tampilan garis nyata (linier) dan garis semu dalam lukisan. Dalam lukisan Heri Dono, tampak dari bentuk yang jelas, dengan ukuran yang tidak sama. Postur objek yang dalam posisi duduk, mempunyai ukuran yang tidak sama dengan postur objek yang lain yang dengan posisi tidur. Warna objek dan warna ruang (area) mempunyai kapasitas warna yang tidak sama, sehingga dapat diukur besarannya.
Nilai ekspresi yang tertuang dalam karya seni lukis Heri Dono, menunjukkan kekhasan Heri Dono. Lukisan yang dihasilkan tersebut, merupakan akulturasi budaya, yang dikembangankannya sesuai visi Heri Dono. Nilai ekspresi bersifat personal, namun secara alamiah, Heridono adalah mahluk sosial yang dalam kehidupannya di masyarakat mengikuti pranata-pranata sosial yang ada. Keberadaan setiap individu akan terintegrasi di dalam pranata sosial tersebut, sehingga keberadaannya tidak akan lepas dari pengaruh lingkungannya.  Ia bebas berkarya, namun pengalamannya menunjukkan bahwa kapasitas Artistik itu terbangun lebih mantap. Pengalaman Berkarya menghasilkan kekuatan artistik yang nyata, dengan tidak lagi mengindahkan kehadiran unsur-unsur seni, dan prinsip seni.
Heri Dono adalah salah satu seniman, yang menekuni karyanya dan sering pameran. Heri Dono pernah mengungkapkan kondisi sosio politik dan sosio kultural yang melatarbelakangi karya-karyanya, seperti karya-karyanya yang berjudul : Lahir dan Bebas (2004), Dewa Ruci (2002), Political Clowns (1996), Superman Baru Belajar Memakai Calana Dalam (2000), Perjalanan ke Planet Mars (2003-2004), bermain catur (1994-1996).
Sebagai hasil kreasi dan budi daya yang melibatkan latar sosial kultural, karya Heri Dono yang berjudul “Selametan Superero” termasuk dalam hasil kebudayaan. Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat-istiadat atau sistem makna yang terjalin secara menyeluruh melalui simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, yang merupakan pegangan hidup bagi kehidupan masyarakat pendukungnya. Karya Heri Dono tersebut merupakan cerita tentang perubahan-perubahan; riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Tampilan karya Heri Dono, mewujudkan karya-karya seni lukis yang baru, dengan tidak lagi mengindahkan bentuk manusia yang realistis, namun sudah dideformasi sedemikian rupa, sehingga terbentuk manusia-manusia yang seperti Heri Dono ungkapkan.
Lukisan tersebut mempunyai peranan yang jelas, karena visualisasi objek dalam lukisan tersebut merupakan gaya yang mendeformasi objek (manusia) sebagai wayang, dan bergaya dekoratif. Hubungan objek manusia, dan bentuk ruang mempunyai peranan yang berbeda. Bentuk ruang tampak menonjolkan keberadaan objek manusia. Perbandingan ukuran bentuk juga mempunyai peran yang berbeda pula. Selain itu di tunjang dengan pemilihan dan pegorganisasian warna yang terkesan apa adanya tanpa pegolahan yang spesial, tetapi tetap menghasilkan karya ya menarik.


Interpretasi
Dalam kajian filsafat seni, objek seni dapat diamati sebagai sesuatu yang mengandung makna simbolik, makna sosial, makna budaya, makna keindahan, makna ekonomi, makna penyadaran, maupun religius. Sedangkan dalam kajian kritik seni, seperti dinamika gaya, teknik pengungkapan, tema karya, ideologi estetik, pengaruh terhadap gaya hidup, hubungan dengan perilaku, dan berbagai hal yang sementara ini memiliki dampak terhadap lingkungannya.
Dalam proses penciptaannya, Heri Dono juga melibatkan berbagai unsur psikologisnya, di antaranya unsur mengamati, berimajinasi, dan mengekspresikan. Proses mengamati tidak sekedar melihat, tetapi melihat dengan mata pikiran, imajinasi dan kreativitas. Melihat adalah aktivitas yang aktif dan proses dinamis. Penglihatan mampu memberikan kita pada persepsi, dimensi, dan meransang untuk berimajinasi. Melihat tidak selalu ada kaitannya dengan apa yang kita lihat dengan yang kita yakini sebagai objek, maupun hubungan antar objek. Objek yang diamati dipandang sebagai suatu karakteristik visual, seperti ukuran, bentuk, warna dan teksturnya. Dalam proses berkarya, pelukis juga melibatkan unsur imajinasi, karena mata pikiran kita mampu melihat pandangan yang mendalam, yang tidak terbatas pada tempat, dan saat itu saja. Mata pikiran dapat membentuk, memanipulasi, dan mentransformasikan imajinasi di luar batas-batas waktu dan ruang yang normal. Walaupun demikian, imajinasi tersebut seringkali hanya samar-samar dan sulit ditangkap, serta sangat mudah hilang. Untuk itu perlu dibuka kembali ingatan visual dalam imajinasi tersebut. Imajinasi dibentuk berdasarkan ingatan visual dari persepsi yang telah lampau. Jadi semakin banyak yang pernah kita lihat dari alam, atau peristiwa yang mengesankan, semakin kaya perbendaharaan imajinasi visual kita, dan akhirnya semakin suburlah imajinasi tersebut. Oleh karena itu imajinasi memungkinkan kita untuk mengenali peristiwa masa lalu, dan merencanakan masa depan.
Agar dapat mengetahui makna dan pesan dalam karya seni yang ingin disampaikan, kita membutuhkan intepretasi/ penafsiran untuk memaknainya yang didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, setiap orang mungkin saja sama karena mendeskripsikan adalah berkaitan dengan apa yang dilihatnya, tetapi dalam menafsirkan akan berbeda karena adanya perbedaan sudut pandang atau paradigma dari setiap orang. Jadi apabila kita dapat menangkap unsur-unsur rupa dan simbol-simbol yang ada di dalamya dan juga jika dikaitkan denga keadaan seniman dan lingkunga sekitarnya pada saat itu pasti akan mampu menangkap yang dimaksudkan dari karya tersebut.
Dalam karya tersebut seniman igin menampilkan kematian dari atau matinya kekuatan yang sangat berpengaruh dan menjadi panutan yaitu berupa budaya yang digambarka menggunakan sosok semar pada zaman sekarang yang menggunakan atribut dan dandanan yang modern yang di sekitarnya juga dikelilingi superhero lain yang sedang mendoakan dan sedang berduka atas matinya seorang panutan.ii yang coba di angkat oleh seniman malaui simbol-simbol dan permainan kata pada judul yang tertera seolah-olah atau menjadi cerminnan zaman sekarang ini dimana generasi penerus sudah mulai lupa akan budaya dancenderung acuh terhadap apa yang sebenarnya menjadi harta dan aset yang perlu diperjuangkan, dan haya segelintir orag saja yag peduli dan yang berjuang untuk saling menjaga.

Penilaian
Karya seni lukis yang merupakan hasil kebudayaan, kebudayaan diartikan sebagai keseluruh-an pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk sosial; yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan atau sistem-sistem makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis. Model-model pengetahuan ini digunakan secara selektif oleh warga masyarakat pendukungnya untuk berkomunikasi, melestarikan dan menghubungkan pengetahuan, bersikap serta bertindak dalam menghadapi lingkungannya untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Kebudayaan merupakan pedoman hidup yang berfungsi sebagai blueprint atau desain menyeluruh bagi kehidupan warga masyarakat pendukungnya; sebagai sistem simbol, pemberian makna, model kognitif yang ditrans-misikan melalui kode-kode simbolik, dan juga merupakan strategi adaptif untuk melestarikan dan mengembangkan kehidupan dalam menyiasati lingkungan dan lestarikan dan mengembangkan kehidupan dalam menyiasati lingkungan dan sumber daya di sekelilingnya.
Penilaian secara umm tidak hanya pada hal yang nampak saja, melainkan harus mendalam sampai pada tingkatan makna da isi yang terkandung dan tersirat di dalam karya, prosesnyasendiri juga tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena biasanya ada seniman yang mudah ditebak dan ada pula yang harus melalui proses yang lama dalam menilai karyanya sehingga biasanya juga seniman yag sulit di tebak akan mendapatkan apresiasi tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar