SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulilahi
robil alamin, dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami kelompok 11 dapat menyelesaikan makalah ini. Dengan kesempatan ini, kami tidak lupa
menyampaikan terima kasih kepada :
1. Abdul Syarifuddin, M.M., M.Pd selaku dosen pengampu matakuliah Manajemen
SDM.
2. Teman-teman kelompok 11 yang telah bekerja sama untuk menyelesaikan makalah ini.
3. Kedua orang tua kami yang selalu memberikan semangat kepada kami.
4. Semua pihak yang telah berkenan
memberikan bantuan-bantuan.
Kami
menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan. Karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun sehingga pembuatan makalah yang akan datang dapat lebih baik. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
DAFTAR ISI
Halaman Judul .................................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................................. ii
Daftar Isi .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................
1
1.3 Tujuan ......................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ...................................................................................................................... 2
1.5 Metode Pencarian Materi ........................................................................................... 2
BAB II PERMASALAHAN .......................................................................................... 3
BAB III PEMBAHASAN .............................................................................................. 4
3.1 Pengertian Kepuasan Kerja ........................................................................................ 4
3.2 Hubungan Kepuasan Kerja dengan Manajemen SDM .............................................. 5
3.3 Teori Kepuasan Kerja ................................................................................................. 5
3.4
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja .................................................. 7
3.5
Pengaruh Kepuasan Kerja ......................................................................................... 10
3.6
Meningkatkan Kepuasan Kerja ................................................................................. 11
3.7
Korelasi/Hubungan Kepuasan Kerja ......................................................................... 13
BAB IV PENUTUP ....................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kepuasan
kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu
memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan sistem
nilai yang dianutnya. Semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang sesuai
dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin tinggi tingkat
kepuasan yang didapat. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak aspek dalam
pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut
individu, semakin rendah tingkat kepuasan yang didapat. Secara empirik dapat
dikatakan bahwa ada hubungan positif antara kepuasan kerja dengan
produktivitas. Kepuasan kerja yang tinggi dapat membuat karyawan bekerja dengan
lebih baik yang pada akhirnya akan meningkatkan. Oleh karena itu dalam makalah
ini akan membahas lebih dalam mengenai kepuasan kerja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu :
1. Apa pengertian
kepuasan kerja?
2. Bagaimana
hubungan kepuasan kerja dengan manajemen SDM?
3. Apa teori
kepuasan kerja?
4. Apa
faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja?
5. Bagaimana
pengaruh kepuasan kerja?
6. Bagaimana
meningkatkan kepuasan kerja?
7. Bagaimana
korelasi/hubungan kepuasan kerja?
1.3 Tujuan
1.
Untuk
mengetahui apa pengertian kepuasan kerja.
2.
Untuk
mengetahui bagaimana hubungan kepuasan kerja
dengan manajemen SDM.
3.
Untuk
mengetahui apa teori kepuasan kerja.
4.
Untuk
mengetahui apa faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja.
5.
Untuk
mengetahui bagaimana pengaruh kepuasan
kerja.
6.
Untuk
mengetahui bagaimana meningkatkan kepuasan
kerja.
7.
Untuk
mengetahui bagaimana korelasi/hubungan
kepuasan kerja.
1.4 Manfaat
1.
Sebagai media belajar dan tambahan wawasan bagi
penulis.
2.
Memberikan
informasi bagi pembaca.
3.
Dapat
memahami atau menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.
1.5 Metode
Pencarian Materi
Penulis dalam mencari materi
menggunakan metode kajian pustaka yaitu mencari di buku dan internet.
BAB II
PERMASALAHAN
Sumber daya manusia mempunyai peran
yang sangat menentukan bagi pencapaian tujuan perusahaan. Seluruh sumber daya
perusahaan dikendalikan oleh SDM perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan
sepatutnya memperhatikan pengelolaan SDMnya dengan baik agar diperoleh kepuasan
karyawan dalam bekerja seperti yang diinginkan perusahaan maupun karyawan itu
sendiri.
Memang tidak mudah memuaskan
karyawan karena kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap
individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda dalam dirinya. Hal
ini sesuai dengan pengertian kepuasan itu sendiri, dimana kepuasan kerja
merupakan keadaan emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dimana
para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini nampak pada sikap karyawan
terhadap pekerjaannya, sikap positif bila puas atau sikap negatif bila tidak
puas.
Ketidakpuasan karyawan dapat
dinyatakan dalam berbagai cara. Misalnya, berhenti bekerja, karyawan mengeluh,
tidak patuh, atau mengelakkan sebagian dari tanggung jawab kerjanya. Sementara
kepuasan kerja merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
karyawan di tempat kerjanya. Adanya karyawan yang puas membuat moral kerja,
dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Untuk itu sudah
menjadi keharusan bagi perusahaan untuk menciptakan kepuasan kerja para
karyawannya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan
kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja.
Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih
mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
Tolak ukur
tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada karena setiap individu karyawan berbeda
kepuasannya. Kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja dan
turnover kecil maka secara relatif kepuasan kerja karyawan baik.
Pengertian
Kepuasan Kerja menurut Tiffin (1958) dalam Moch.
As’ad (1995 : 104) kepuasan kerja
berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri,
situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan karyawan. Sedangkan menurut
Blum (1956) dalam Moch. As’ad ( 1995 : 104 ) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum
yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor – faktor
pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu diluar kerja.
Menurut
Hasibuan (2007) Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan
mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja (job statisfaction) karyawan
harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan
kedisiplinan karyawan meningkat. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja,
kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan,
luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam
pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan
memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana
lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja
dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa
walaupun balas jasa itu penting.
Robbins and
Judge (2009) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan positive tentang
pekerjaan sebagai hasil evaluasi karakter-karakter pekerjaan tersebut.
Senada dengan itu, Noe, et. all (2006) mendefinisikan kepuasan kerja
sebagai perasaan yang menyenangkan sebagai hasil dari persepsi bahwa
pekerjaannya memenuhi nilai-nilai pekerjaan yang penting. Selanjutnya
Kinicki and Kreitner (2005) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai respon sikap
atau emosi terhadap berbagai segi pekerjaan seseorang. Definisi ini
memberi arti bahwa kepuasan kerja bukan suatu konsep tunggal. Lebih dari itu
seseorang dapat secara relative dipuaskan dengan satu aspek pekerjaannya
dan dibuat tidak puas dengan satu atau berbagai aspek. Dalam pandangan
yang hampir sama, Nelson and Quick (2006) menyatakan bahwa kepuasan kerja
adalah suatu kondisi emosional yang positif dan menyenangkan sebagai
hasil dari penilaian pekerjan atau pengalaman pekerjaan seseorang.
Dari batasan
- batasan mengenai kepuasan kerja
tersebut, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya.
Ini berarti bahwa konsepsi kepuasan kerja melihatnya sebagai hasil interaksi
manusia terhadap lingkungan kerjanya. Di samping itu, perasaan seseorang
terhadap pekerjaan tentulah sekaligus merupakan refleksi dari sikapnya terhadap
pekerjaan. Pada dasarnya kepuasan kerja
merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat
kepuasan yang berbeda–beda sesuai dengan sistem nilai–nilai yang berlaku dalam
dirinya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada masing–masing individu.
Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan
individu, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan, dan
sebaliknya.
3.2 Hubungan Kepuasan Kerja Dengan
Manajemen SDM
Jika dilihat dari pengertian
kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai
pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi
kerja. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan
lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu
penting. Oleh karena itu hubungan kepuasan kerja dengan manajemen SDM yaitu
dengan adanya sikap kepuasan kerja/ tidak puas dengan pekerjaannya maka
manajemen SDM bisa mengatur karyawan yang memang tidak puas dengan
pekerjaannya, apa yang melatar belakangi karyawan tersebut tidak puas dengan
pekerjaannya. Hal tersebut bisa disebabkan karena jenis pekerjaannya tidak
disukai atau lainnya. Sehingga dengan adanya kepuasan kerja ini manajemen SDM
bisa mengatur karyawan sebaik mungkin yang bertujuan untuk produktivitas yang
baik dalam pekerjaannya.
3.3 Teori
Kepuasan Kerja
Teori tentang kepuasan kerja yang telah cukup terkenal
adalah :
1. Teori Ketidaksesuaian
Teori ini pertama sekali dikemukakan
oleh porter (1961), yang mendefinisikan bahwa job satisfaction is the
difference between how much of something there should be and how much there “is
now” . Setiap orang menginginkan agar sejumlah pekerjaan yang telah disumbangkan
kepada pemberi kerja akan dihargai sebesar yang diterima secara kenyataan.
Seorang yang terpuaskan bila tidak ada selisih antara situasi yang diinginkan
dengan yang sebenarnya diterima. Dengan kata lain, jumlah yang disumbangkan ke
pekerjaannya bila dikurangi dengan apa yang diterima secara kenyataan hasilnya
adalah nol, dapat dikatakan pekerjaan tersebut memberikan kepuasan kerja.
Semakin besar kekurangan atau selisih dari pengurangan tersebut, semakin besar
ketidakpuasan. Keadaan sebaliknya, jika terdapat lebih banyak jumlah faktor
pekerjaan yang dapat diterima yang menimbulkan kelebihan atau menguntungkan,
maka orang yang bersangkutan akan sama puasnya bila terdapat selisih dari
jumlah yang diinginkan.
2. Teori
Keadilan
Teori ini pertama sekali dikemukakan
oleh Zaleznik (1958), kemudian dikembangkan oleh Adams (1963). Teori ini
menunjukan kepada seseorang merasa puas atau tidak puas atas situasi tergantung
pada perasaan adil (equity) atau tidak adil (inequity). Perasaan adil dan tidak
adil atas suatu situasi didapat oleh setiap orang dengan cara mebandingkan
dirinya dengan orang lain pada tingkat dan jenis pekerjaan yang sama, pada
tempat maupun ditempat yang berbeda.
Secara umum diketahui bahwa keadilan
menyangkut penilaian seseorang tentang perlakuan yang diterimanya atas tindakan
terhadap suatu pekerjaan. Seorang merasa adil apabila perlakuan yang
diterimanya menguntungkan bagi dirinya. Sebaliknya ketidakadilan apabila
perlakuan yang diterima dirasakan merugikan dirinya. Perasaan tidak adil yang
dialami seseorang tersebut berpengaruh terhadap prestasi kerjanya karena
ketidakpuasan yang diperoleh.
Wexley dan Yukl (2003) mengatakan
bahwa komponen utama dari teori ini adalah input, outcomes, comparison person
dan equity-inequity. Menurut teori ini, seorang menilai adil bila rasio
inputnya dengan hasil dibandingkan dengan rasio input dengan hasil dari
seseorang atau sejumlah orang lain bandingan. Orang bandingan mungkuin saja
dari orang-orang sendiri dengan pekerjaan sebelumnya. Jika rasio hasil : input
seorsng pekerja adalah sama atau sebanding dengan rasio orang bandingannya,
maka suatu keadaan adil dianggap para pekerja. Sebaliknya jika para pekerja
menganggap perbandingan tersebut tidak adil, maka keadaan ketidakadilan
dianggap ada. Persoalannya bagaimana kalau rasio hasil : input yang dicapai
melebihi dari rasio hasil : input yang diperoleh orang bandingannya? Bagaimana
pula jika terjadi sebaliknya? Kembali pada pernyataan sebelumnya, keadilan
diperoleh bila, rasio hasil : input seorang pekerja adalah sama atau sebanding
dengan rasio orang bandingannya.
3. Value Theory
Menurut
teori ini kepuasan kerja terjadi pada tingkatan dimana hasil pekerjaan diterima
individu seperti diharapkan. Semakin banyak orang menerima hasil, akan semakin
puas dan sebaliknya. Kunci menuju kepuasan pada teori ini adalah perbedaan
antara aspek pekerjaan yang dimiliki dengan yang diinginkan seseorang. Semakiin
besar perbedaan, semakin rendah kepuasan orang.
3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Menurut
Hasibuan (2007) kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1)
Balas jasa yang adil dan layak.
2) Penempatan yang tepat
sesuai dengan keahlian.
3) Berat ringannya pekerjaan.
4)
Suasana dan lingkungan pekerjaan.
5) Peralatan yang menunjang
pelaksanaan pekerjaan.
6) Sikap pimpinan dalam
kepemimpinannya.
7) Sifat pekerjaan monoton
atau tidak.
Kepuasan
kerja karyawan banyak dipengaruhi oleh sikap pimpinan dalam kepemimpinan.
Kepemimpinan partisipasi memberikan kepuasan kerja bagi karyawan, karena
karyawan ikut aktif dalam memberikan pendapatnya untuk menentukan kebijaksanan
perusahaan. Kepemimpinan otoriter mengakibatkan ketidakpuasan kerja karyawan.
Kepuasan kerja karyawan merupakan kunci pendorong moral kerja,
kedisiplinan dan prestasi kerja karyawan dalam mendukung terwujudnya tujuan
perusahaan.
Menurut
Robbins dan Judge (2009) ada 21 faktor yang berhubungan dengan kepuasan kerja
yaitu otonomi dan kebebasan, karir benefit, kesempatan untuk maju, kesempatan
pengembangan karir, kompensasi/gaji, komunikasi antara karyawan dan manajemen,
kontribusi pekerjaan terhadap sasaran organisasi, perasaan aman di
lingkungan kerja, kefleksibelan untuk menyeimbangkan kehidupan dan
persoalan kerja, keamanan pekerjaan, training spesifik pekerjaan,
pengakuan manajemen terhadap kinerja karyawan, keberartian pekerjaan,
jejaring, kesempatan untuk menggunakan kemampuan atau keahlian, komitmen
organisasi untuk pengembangan, budaya perusahaan secara keseluruhan,
hubungan sesama karyawan, hubungan dengan atasan langsung, pekerjaan itu
sendiri, keberagaman pekerjaan.
Luthans (2005) menyatakan bahwa ada
sejumlah faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Hal-hal utama dengan
mengingat dimensi-dimensi paling penting yaitu gaji, pekerjaan itu sendiri,
promosi, pengawasan, kelompok kerja dan kondisi kerja (9).
Selanjutnya Nelson and Quick (2006) mengungkapkan bahwa kepuasan
kerja dipengaruhi 5 dimensi spesifik dari pekerjaan yaitu gaji, pekerjaan
itu sendiri, kesempatan promosi, supervisi dan rekan kerja (10).
Byars and Rue (2005) (11),
menyatakan bahwa sistem reward organisasi sering mempunyai dampak
signifikan pada tingkat kepuasan kerja karyawan. Disamping dampak
langsung, cara reward extrinsik diberikan dapat mempengaruhi
reward intrinsik (dan kepuasan) dari penerima. Sebagai contoh jika
tiap orang menerima peningkatan gaji 5 persen adalah sulit
untuk mendapatkan penyelesaian reward. Namun demikian jika kenaikan gaji
dikaitkan langsung dengan kinerja, seorang karyawan yang menerima
peningkatan gaji yang besar akan lebih mungkin mengalami perasaan penyelesaian
dan kepuasan. Ada lima komponen utama kepuasan kerja yaitu:
1) Sikap terhadap kelompok
kerja
2) Kondisi umum pekerjaan
3) Sikap terhadap perusahaan
4) Keuntungan secara ekonomi
5) Sikap terhadap manajemen
Komponen lain mencakup kondisi pikiran karyawan
tentang pekerjaan itu sendiri dan kehidupan secara umum. Sikap seorang
karyawan terhadap pekerjaan mungkin positif atau negative. Kesehatan, usia,
tingkat aspirasi, status sosial, kegiatan sosial dan politik
dapat mempengaruhi kepuasan kerja.
Menurut Kreitner dan Kinicki (2005)
(12) terdapat lima faktor
yang dapat mempengaruhi timbulnya kepuasan yaitu:
1) Need
fulfillment (pemenuhan kebutuhan). Model ini mengajukan bahwa kepuasan
ditentukan tingkatan karakteristik pekerjaan yang memungkinkan
kesempatan pada individu untuk memenuhi kebutuhannya.
2) Discrepancies
(perbedaan). Model ini menyatakan bahwa kepuasan merupakan suatu hasil memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan
dan yang diperoleh individu dari pekerjaan. Apabila harapan lebih besar
daripada apa yang diterima, orang akan tidak puas. Sebaliknya
diperkirakan individu akan puas apabila mereka menerima manfaat diatas harapan.
3) Value
attainment (pencapaian nilai). Gagasan value attainment adalah bahwa kepuasan merupakan hasil dari persepsi
pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang penting.
4) Equity
(keadilan). Dalam model ini dimaksudkan bahwa kepuasan merupakan fungsi
dari seberapa adil individu diperlakukan di tempat kerja. Kepuasan merupakan
hasil dari persepsi orang bahwa perbandingan antara hasil kerja dan inputnya
relatif lebih menguntungkan dibandingkan dengan perbandingan antara keluaran
dan masukkan pekerjaan lainnya.
5) Dispositional/genetic
components (komponen genetik). Beberapa rekan kerja atau teman tampak
puas terhadap variasi lingkungan kerja, sedangkan lainnya kelihatan tidak puas.
Model ini didasarkan pada keyakinan bahwa kepuasan kerja sebagian merupakan
fungsi sifat pribadi dan faktor genetik. Model menyiratkan perbedaan individu
hanya mempunyai arti penting untuk menjelaskan kepuasan kerja seperti halnya
karakteristik lingkungan pekerjaan.
Selain
itu, berikut juga faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja:
- Kesempatan untuk maju. Dalam hal
ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan
kemampuan selama kerja.
- Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut sebagai
penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan
yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.
- Gaji, Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan
jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang
diperolehnya.
- Perusahaan dan manajemen, Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu
memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini yang
menentukan kepuasan kerja karyawan.
- Supervisi, bagi karyawan supervisor
dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk
dapat berakibat absensi dan turn over (menyerah).
- Faktor intrinsik dari pekerjaan, Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan
ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan
meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
- Kondisi kerja, Termasuk
di sini adalah kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat
parkir.
- Aspek sosial dalam pekerjaan, Merupakan salah satu sikap yang sulit
digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak
puas dalam kerja.
- Komunikasi, Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan
pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk
menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau
mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya
sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
- Fasilitas
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
Berdasarkan indikator yang
menimbulkan kepuasan kerja tersebut di atas akan dapat dipahami sikap individu
terhadap pekerjaan yang dilakukan. Karena setiap individu akan memiliki tingkat
kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada
dirinya. Ini disebabkan adanya perbedaan persepsi pada masing-masing individu.
Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu
tersebut maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya. Oleh karenanya
sumber kepuasan seorang karyawan secara subyektif menentukan bagaimana
pekerjaan yang dilakukan memuaskan. Meskipun untuk batasan kepuasan kerja ini
belum ada keseragaman tetapi yang jelas dapat dikatakan bahwa tidak ada
prinsip-prinsip ketetapan kepuasan kerja yang mengikat dari padanya.
3.5 Pengaruh
Kepuasan Kerja
1) Terhadap
Produktivitas
Orang
berpendapat bahwa produktivitas dapat dinaikkan dengan meningkatkan kepuasan
kerja. Kepuasan kerja mungkin merupakan akibat dari produktivitas atau
sebaliknya. Produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan
kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa apa yang telah dicapai
perusahaan sesuai dengan apa yang mereka terima (gaji/upah) yaitu adil dan
wajar serta diasosiasikan dengan performa kerja yang unggul. Dengan kata lain
bahwa performansi kerja menunjukkan tingkat kepuasan kerja seorang pekerja,
karena perusahaan dapat mengetahui aspek-aspek pekerjaan dari tingkat
keberhasilan yang diharapkan.
2) Ketidakhadiran
(Absenteisme)
Menurut
Porter dan Steers, ketidakhadiran sifatnya lebih spontan dan kurang
mencerminkan ketidakpuasan kerja. Tidak adanya hubungan antara kepuasan kerja
dengan ketidakhadiran. Karena ada dua faktor dalam perilaku hadir yaitu
motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir.
Sementara
itu menurut Wibowo (2007:312) “antara kepuasan dan ketidakhadiran/kemangkiran
menunjukkan korelasi negatif”. Sebagai contoh perusahaan memberikan cuti sakit
atau cuti kerja dengan bebas tanpa sanksi atau denda termasuk kepada pekerja
yang sangat puas.
3) Keluarnya
Pekerja (Turnover)
Sedangkan
berhenti atau keluar dari pekerjaan mempunyai akibat ekonomis yang besar, maka
besar kemungkinannya berhubungan dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Robbins
(1998), ketidakpuasan kerja pada pekerja dapat diungkapkan dalam berbagai cara
misalnya selain dengan meninggalkan pekerjaan, mengeluh, membangkang, mencuri
barang milik perusahaan/organisasi, menghindari sebagian tanggung jawab
pekerjaan mereka dan lainnya.
4) Respon
terhadap Ketidakpuasan Kerja
Menurut
Robbins (2003) ada empat cara tenaga kerja mengungkapkan ketidak puasan yaitu:
a)
Keluar (Exit)
yaitu meninggalkan pekerjaan termasuk mencari pekerjaan lain.
b)
Menyuarakan (Voice)
yaitu memberikan saran perbaikan dan mendiskusikan masalah dengan atasan untuk
memperbaiki kondisi.
c)
Mengabaikan (Neglect)
yaitu sikap dengan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk seperti sering absen
atau semakin sering membuat kesalahan.
d)
Kesetiaan (loyality)
yaitu menunggu secara pasif samapi kondisi menjadi lebih baik termasuk membela
perusahaan terhadap kritik dari luar.
3.6 Meningkatan
Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja bukan hanya
mengurangi stress, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kinerja, mengurangai
perhatian karyawan dan ketidakhadiran. Berdasarkan pengetahuan terbaru,
berikut peningkataan kepuasan kerja:
1.
Membuat Pekerjaan Menjadi Menyenangkan, dimana
perusahaan dan organisasi membentuk budaya organisasi yang fun atau
menyenangkan bagi para karyawan sehingga membuat pekerjaan lebih menyenangkan,
tetapi tidak menghilangkan kebosanan dan mengurangi kesempatan bagi
ketidakpuasan.
2.
Memiliki gaji, benefit dan kesempatan promosi yang adil, terdapat
berbagai cara dimana organisasi secara khusus mencoba memmbuat karyawan mereka
puas
3.
Menyesuaikan orang dengan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kahlian
mereka, memberikan pekerjaan yang sesuai merupakan hal yang
paling penting untuk memuaskan karyawan, tetapi sering diabaikan. Tentu saja,
ini diasumsikan bahwa organisasi mengetahui minay dan keahlian seseorang.
Perusahan dengan manajemen SDM yang baik memberikan perhatian dalam menemukan
minat dan eahlian dari orang yang akan dipekerjakan dan karyawan yang sudah
ada, agar sesuai dengan pekerjaan mereka.
4.
Mendesain Pekerjaan agar menarik dan menyenangkan, selain
menemukan orang yang tepat dalam suatu pekerjaan dan juga menyarankan desain
pekerjaan yang sesuai dengan orangnya. Desain kerja untu membantu memotivasi
dan menyenangkan karyawan, contohnya adalah dengan memberikan tanggung jawab
lebih dan embentuk lebh banyak variasi, arti, identitas, otonomi, dan uman
balik.
Menurut
Riggio (2005), peningkatan
kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1)
Melakukan
perubahan struktur kerja, misalnya dengan melakukan perputaran pekerjaan (job
rotation), yaitu sebuah sistem perubahan pekerjaan dari salah satu tipe
tugas ke tugas yang lainnya (yang disesuaikan dengan job description).
Cara kedua yang harus dilakukan adalah dengan pemekaran (job enlargement),
atau perluasan satu pekerjaan sebagai tambahan dan bermacam-macam tugas
pekerjaan. Praktik untuk para pekerja yang menerima tugas-tugas tambahan dan
bervariasi dalam usaha untuk membuat mereka merasakan bahwa mereka adalah lebih
dari sekedar anggota dari perusahaan.
2)
Melakukan
perubahan struktur pembayaran, perubahan sistem pembayaran ini dilakukan dengan
berdasarkan pada keahliannya (skill-based pay), yaitu pembayaran dimana
para pekerja digaji berdasarkan pengetahuan dan keterampilannya daripada
posisinya di perusahaan. Pembayaran kedua dilakukan berdasarkan jasanya (merit
pay), sistem pembayaran dimana pekerja digaji berdasarkan performancenya,
pencapaian finansial pekerja berdasarkan pada hasil yang dicapai oleh individu
itu sendiri. Pembayaran yang ketiga adalah Gainsharing atau pembayaran
berdasarkan pada keberhasilan kelompok (keuntungan dibagi kepada seluruh
anggota kelompok).
3)
Pemberian
jadwal kerja yang fleksibel, dengan memberikan kontrol pada para pekerja
mengenai pekerjaan sehari-hari mereka, yang sangat penting untuk mereka yang
bekerja di daerah padat, dimana pekerja tidak bisa bekerja tepat waktu atau
untuk mereka yang mempunyai tanggung jawab pada anak-anak. Compressed work
week (pekerjaan mingguan yang dipadatkan), dimana jumlah pekerjaan
per harinya dikurangi sedang jumlah jam pekerjaan per hari ditingkatkan. Para
pekerja dapat memadatkan pekerjaannya yang hanya dilakukan dari hari Senin
hingga Jum’at, sehingga mereka dapat memiliki waktu longgar untuk liburan. Cara
yang kedua adalah dengan sistem penjadwalan dimana seorang pekerja menjalankan
sejumlah jam khusus per minggu (Flextime), tetapi tetap mempunyai fleksibilitas
kapan mulai dan mengakhiri pekerjaannya.
4)
Mengadakan
program yang mendukung, perusahaan mengadakan program-program yang dirasakan
dapat meningkatkan kepuasan kerja para karyawan, seperti; health center
(puskesmas), profit sharing (membicarakan pembagiab keuntungan), dan
lain-lain.
3.7 Korelasi/Hubungan Kepuasan Kerja
Hubungan
antara kepuasan kerja dengan variabel lain dapat bersifat positif atau negatif.
Kekuatan hubungan mempunyai rentang dari lemah dampai kuat. Menurut Kreitner
dan Kinicki (2001;226) Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa atasan dapat
mempengaruhi dengan signifikan variabel lainnya dengan meningkatkan kepuasan
kerja. Beberapa korelasi kepuasan kerja sebagai berikut :
1)
Motivasi
Antara
motivasi dan kepuasan kerja terdapat hubungan yang positif dan signifikan.
Karena kepuasan dengan pengawasan/supervisi juga mempunyai korelasi signifikan
dengan motivasi, atasan/manajer disarankan mempertimbangkan bagaimana perilaku
mereka mempengaruhi kepuasan pekerja sehingga mereka secara potensial dapat
meningkatkan motivasi pekerja melalui berbagai usaha untuk meningkatkan
kepuasan kerja.
2)
Pelibatan
Kerja
Hal ini
menunjukkan kenyataan dimana individu secara pribadi dilibatkan dengan peran
kerjanya. Karena pelibatan kerja mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, dan
peran atasan/manajer perlu didorong memperkuat lingkungan kerja yang memuaskan
untuk meningkatkan keterlibatan kerja pekerja.
3)
Organizational
commitment
Mencerminkan
tingkatan dimana individu mengidentifikasi dengan perusahaan dan mempunyai
komitmen terhadap tujuannya. Antara komitmen organisasi dengan kepuasan
terdapat hubungan yang siknifikan dan kuat, karena meningkatnya kepuasan kerja
akan menimbulkan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya komitmen yang
lebih tinggi dapat meningkatkan produktivitas kerja.
4)
Ketidakhadiran
(Absenteisme)
Antara
ketidakhadiran dan kepuasan terdapat korelasi negatif yang kuat. Dengan kata
lain apabila kepuasan meningkat, ketidakhadiran akan turun.
5)
Perasaan
stres
Antara
perasaan stres dengan kepuasan kerja menunjukkan hubungan negatif dimana dengan
meningkatnya kepuasan kerja akan mengurangi dampak negatif stres.
6)
Prestasi
kerja/kinerja
Terdapat hubungan positif rendah antara kepuasan dan
prestasi kerja. Dikatakan kepuasan kerja menyebabkan peningkatan kinerja
sehingga pekerja yang puas akan lebih produktif. Di sisi lain terjadi kepuasan
kerja disebabkan oleh adanya kinerja atau prestasi kerja sehingga pekerja yang
lebih produktif akan mendapatkan kepuasan.
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan
kajian yang membahas tentang kepuasan kerja, maka kami dapat menyimpulkan
sebagai berikut :
Kepuasan
kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja.
Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih
mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
Tolak ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada karena setiap individu
karyawan berbeda kepuasannya. Kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan,
moral kerja dan turnover kecil maka secara relatif kepuasan kerja karyawan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
sumber;google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar