SISTEM INFORMASI
MANAJEMEN
SUMBER DAYA MANUSIA
(SIM SDM)
DAN
KEPUASAN KERJA
KARYAWAN
Tamara Anjani
Utomo
Jurusan Manajemen
Universitas Nurtanio, Bandung
Sri Wahyuningsih
Sukiyo
Jurusan Manajemen
Universitas Nurtanio, Bandung
Muhamad Iqbal
Jurusan Manajemen
Universitas Nurtanio, Bandung
Ardy Putra Frasetya
Jurusan Manajemen
Universitas Nurtanio, Bandung
ABSTRACT
This discussion aims to give an overview
of the information needs and functions in order to build a system of human
resource management information (MIS HR ) and employee satisfaction . As we
already know that the importance of knowing how an information system can run
smoothly and with the system how job satisfaction of employees of the company .
The discussion of this matter has resulted in the design of systems that can be
used as the basis of management information system development of human resources
and employee satisfaction.
ABSTRAK
Pembahasan ini bertujuan untuk memberi gambaran
tentang kebutuhan informasi dan fungsi guna membangun sistem informasi manajemen
sumber daya manusia (SIM SDM) dan kepuasan kerja karyawan. Seperti telah kita
ketahui bahwa pentingnya kita mengetahui bagaimana suatu sistem informasi dapat
berjalan dengan baik serta dengan adanya sistem tersebut bagaimana kepuasan
kerja karyawan terhadap perusahaan. Pembahasan materi ini telah menghasilkan
rancangan sistem yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan sistem informasi
manajemen sumber daya manusia dan kepuasan kerja karyawan.
1.
PENDAHULUAN
Topik ini membahas tentang sistem
informasi sumber daya manusia dan kepuasan
Armstrong. (2006, 3). Wildmoor, Worcestershire.
rigio. (2005). MSDM.
kerja terhadap kinerja karyawan disuatu perusahaan. Manajemen sumber daya manusia didefinisikan sebagai pendekatan
strategis dan koheren untuk pengelolaan aset organisasi yang paling berharga
yaitu orang-orang yang bekerja baik secara individual dan kolektif memberikan
kontribusi pada pencapaian tujuan organisasi (Armstrong, 2006) .
Proses
dalam ruang lingkup manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses yang
dinamis mengikuti perubahan yang terjadi dalam suatu pemerintahan. Dimana
keadaan tersebut akan banyak berpengaruh pada teknologi sistem informasi yang
akan digunakan. Oleh sebab itu proses apa yang dapat dilakukan oleh sebuah
sistem sumber daya manusia akan sangat tergantung pada model data yang dibentuk
untuk kebutuhan tersebut.
Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya
Manusia (SIM SDM) merupakan sebuah sistem yang berusaha untuk menggabungkan
aktivitas yang berhubungan dengan manajemen sumber daya manusia dan teknologi
informasi. Pemanfaatan sistem informasi berbasis teknologi informasi dalam
manajemen sumber daya manusia akan menghasilkan informasi yang dibutuhkan pihak
organisasi dalam pengambilan keputusan.
Sistem Informasi Manajemen (SIM)
menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan
berita kemudian memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial
organisasi dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem
karena berita yang tersebar dalam berbagai bentuknya dikumpulkan, disimpan
serta diolah dan diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi
suatu informasi.Perencanaan sebuah sistem informasi merupakan
kegiatan mendefinisikan kebutuhan organisasi dan sistem untuk mendukung keseluruhan
strategi bisnis. Agar sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
maka dibutuhkan perencanaan sistem informasi yang mampu memenuhi kebutuhan akan
informasi dan fungsi-fungsi dalam manajemen sumber daya manusia organisasi.
Sedangkan yang dimaksud dengan kepuasan kerja
adalah keadaan emosional yang menyenagkan atau tidak menyenangkan dengan mana
para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan
seseorang terhadap pekerjaannya. Ini nampak dalam sikap positif karyawan
terhdap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di dalam lingkungan kerjanya.
Departemen personalia atau manajemen harus senantiasa memonitor kepuasan kerja,
karena hal itu memepengaruhi tingkat absensi, perputaran tenaga kerja, semangat
kerja, keluhan–keluhan, dan masalah–masalah personal vital lainnya. Handoko,
Sukses
tidaknya suatu organisasi sangat bergantung dari kualitas sumber daya manusia
yang dimiliki karena sumber daya manusia yang berkualitas adalah sumber daya
manusia yanng mampu berprestasi maksimal. Kepuasan kerja mempunyai peranan
penting terhadap prestasi kerja karyawan, ketika seorang karyawan merasakan
kepuasan dalam bekerja maka karyawan akan berupaya maksimal dengan segenap
kemampuan yang dimliki untuk menyelesaikan tugasnya, yang pada akhirnya akan
menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan.
Pada
Universitas ABC, manajemen sumber daya manusia belum dilakukan secara optimal
dan belum didukung oleh pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi yang
memadai, hal ini dapat dilihat dari sistem pengorganisasian data karyawan dan
mahasiswa yang belum baik serta belum tersedianya informasi karyawan dan
mahasiswa yang memadai yang dibutuhkan manajemen.
Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan
hal yang bersifat individual. Begitupun dengan karyawan di Universitas ABC memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan sistem nilai
yang dianutnya. Semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang sesuai dengan
keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin tinggi tingkat
kepuasan yang didapat. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak aspek dalam
pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut
individu, semakin rendah tingkat kepuasan yang didapat. Secara empirik dapat
dikatakan bahwa ada hubungan positif antara kepuasan kerja dengan produktivitas.
Kepuasan kerja yang tinggi dapat membuat karyawan bekerja dengan lebih baik
yang pada akhirnya akan meningkatkan.
Topik
tersebut di atas bertujuan menggambarkan seberapa besar sistem informasi
manajemen sumber daya manusia (SIMSDM) dan kepuasan kerja karyawan di
Universitas ABC.
2.
LARAT BELAKANG
2.1
Sistem Informasi Manajemen (SIMSDM)
Sebelum
membahas mengenai Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIMSDM)
terlebih dahulu akan dibahas mengenai pengertian manajemen sumber daya manusia
(MSDM) dan pengertian Sistem Informasi. MSDM merupakan kegiatan pengelolaan
karyawan sebagai aset organisasi yang paling berharga dengan tujuan menciptakan
dan mempertahankan tenaga kerja terampil dan berkomitmen yang mampu memberikan
kontribusi guna pencapaian tujuan organisasi. Hal ini dapat dilihat dari
berbagai defenisi tentang manajemen sumber daya manusia berikut ini. Senyucel mendefinisikan, “HRM is a combination of people-oriented management practices that
views employees as assets, not costs and its main aim is to create and maintain
a skilful and committed workforce to gain competitive advantage.”
Armstrong
(2006:3) menyatakan bahwa “Human resource
management is defined as a strategic and coherent approach to the management of
an organization’s most valued assets– the people working there who individually
and collectively contribute to the achievement of its objectives.”
Berdasarkan
deskripsi diatas dapat dijabarkan bahwa teknik yang dilakukan dalam manajemen
sumber daya manusia berawal dari melakukan analisis pekerjaan, merencanakan
kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon karyawan, memilih calon karyawan,
mengarahkan dan melatih karyawan-karyawan baru, mengatur upah dan gaji,
memberikan insentif dan keuntungan, menilai prestasi, berkomunikasi, melatih
dan mengembangkan para manajer serta membangun komitmen karyawan.
Penggerakan sumber daya manusia
merupakan fungsi yang teramat penting dalam manajemen sekaligus paling sulit.
Penggerakan SDM yang tepat dan efektif memerlukan informasi yang handal. Misalnya,
informasi tentang klasifikasi jabatan, informasi tentang uraian dan analisis
pekerjaan,informasi tentang standar mutu yang diterapkan dalam manajemen, dan
berbagai informasi lainnya yang memungkinkan satuan kerja yang mengelola SDM
dalam organisasi menyelenggarakan berbagai fungsinya dengan baik.
Penyelenggaraan kegiatan operasional
merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruhan proses manajerial dan
bahkan merupakan tes apakah sebuah organisasi berjalan dengan benar atau tidak.
Hal ini dikarenakan manajemen bersifat situasional dimana penerapan
prinsip-prinsip manajemen harus diterapkan secara universal dengan
memperhitungkan faktor situasi, kondisi, ruang dan waktu. Manajemen juga
berorientasi pada hasil optimal dari segi produk, efisiensi dan efektivitas
kerja. Sehingga penyelenggaraan kegiatan operasional yang baik dan tepat akan
terwujud didukung informasi yang tepat pula.
Pengawasan atas pertimbangan bahwa
penyelenggaraan seluruh kegiatan operasional memungkinkan terjadi kesalahan
yang berarti dapat berakibat pada tidak terwujudnya tingkat efisiensi,
efektivitas dan produktivitas yang diharapkan. Oleh karena itu, kegiatan
pengawasan jelas memerlukan sekaligus menghasilkan informasi tentang
penyelenggaraan berbagai kegiatan operasional yang sedang terjadi.
Seperti halnya dalam pengawasan,
informasi dalam proses penilaian juga sangat dibutuhkan. Informasi dapat
diperoleh melalui berbagai wawancara, penyebaran kuesioner kepada pihak-pihak
lain yang dianggap mengetahui pengetahuan mendalam tentang seluruh proses
manajerial, dan teknik-teknik lainnya yang dipandang perlu dan tepat digunakan.Tiap
perusahaan memiliki sistem untuk mengumpulkan dan memelihara data yang
menjelaskan sumber daya manusia, mengubah data tersebut menjadi informasi, dan melaporkan
informasi itu kepada pemakai. Sistem ini dinamakan sistem manajemen sumber daya
manusia (human resource information
system) atau HRIS.Pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan
sebuah bidang yang mulai berkembang sejak tahun 1960an. Walau tidak terdapat
konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang
menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta
pengambilan keputusan sebuah organisasi.
Baskerville dan Myers berargumentasi
bahwa SIM sudah saatnya menjadi sebuah disiplin ilmu secara mandiri. Davis
menawarkan konsensus, bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat
dikategorikan sebagai ciri khusus bidang SIM :
·
Proses Manajemen, seperti
perencanaan strategis, pengelolaan fungsi sistem informasi, dan seterusnya.
·
Proses Pengembangan,
seperti manajemen proyek pengembangan sistem, dan seterusnya.
·
Konsep Pengembangan,
seperti konsep sosio-teknikal, konsep kualitas.
·
Representasi, seperti
sistem basis data, pengkodean program, dan seterusnya.
·
Sistem Aplikasi, seperti {Knowledge Management, Executive System}.
Informasi sebagai dasar dari
pengetahuan adalah kumpulan dari data-data yang diolah sehingga menjadi sesuatu
yang berarti dan bermanfaat.
Sedangkan data itu sendiri adalah
fakta-fakta, angka-angka atau statistik-statistik yang dari padanya dapat
menghasilkan kesimpulan. Kedepannya informasi -informasi yang terkumpul dapat
diolah menjadi sebuah pengetahuan baru.
![]() |
Terdapat banyak teknologi yang
mendukung SIM baik secara online atau
offline. Tapi dasar dari aplikasi yang
digunakan pada Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah aplikasi databese. Sistem
ini harus mampu mengolah data yang dikumpulkan pada database menjadi sebuah
produk informasi yang dibutuhkan penggunanya. Sistem ini juga harus bisa
membagi informasi yang diproduksinya menjadi beberapa tingkatan, sehingga
setiap tingkatan hanya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
Sistem
Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIMSDM) didefinisikan sebagai 3 input
yang menyediakan informasi bagi manajer secara menyeluruh tentang sumber daya
manusia organisasi, sebagaimana yang diungkapkan McLeod dan Schell, “The Human Resources Information System
(HRIS) provides information to managers throughout the firm concerning the
firm’s human resources”.
Untuk
menyediakan informasi yang baik perlu dukungan teknologi 3 komputer yang
mengintegrasikan berbagai komponen dalam proses pengolahan data dan
administrasi sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Kettley
and Reilly, “a computerized human
resource information system consists of ‘a fully integrated, organization-wide
network of HR-related data, information, services, databases, tools and
transactions’. Such a system can be described as ‘e-HR’, meaning ‘the
application of conventional, web and voice technologies to improve HR
administration, transactions and process performance” (Armstrong, 2006:889)
Ada
beberapa kegiatan manajemen sumber daya manusia di Universitas ABC saat ini
adalah sebagai berikut :
·
Sistem Perencanaan dan Rekruitmen
·
Kebutuhan sumber daya manusia di
Universitas ABC dapat terpenuhi, aktivitas dimulai dari penentuan kebutuhan SDM
melalui rapat pimpinan yang kemudian ditindak lanjuti dengan proses rekrutmen
melalui media cetak dan elektronik. Selanjutnya pelamar yang memenuhi kriteria
akan menjalani tahapan seleksi. Namun dari kegiatan tersebut, terdapat beberapa
kelemahan yang ditemukan antara lain proses pendataan belum dilaksanakan dengan
baik sehingga institusi tidak memiliki pangkalan data yang lengkap untuk
kebutuhan dalam kegiatan pengelolaan sumber daya manusia lebih lanjut.
·
Sistem Administrasi Sumber Daya Manusia
·
Proses administrasi sumber daya
manusia dimulai dari pengelolaan data induk karyawan, cuti, promosi, rotasi, mutasi
dan pemberhentian dilakukan di unit Biro Administrasi Umum (BAU). Setiap
pengambilan keputusan dilaksanakan secara bersama melalui rapat pimpinan. Dari
kegiatan tersebut, beberapa kelemahan yang sering ditemui antara lain manajemen
arsip terkait pendataan karyawan belum dikelola dengan baik dan proses
pengambilan keputusan terkendala dengan belum tersedianya informasi yang
lengkap sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.
·
Sistem Pengembangan Sumber Daya
Manusia
·
Pengembangan yang dilakukan
berdasarkan kebutuhan bisnis institusi. Perencanaannya dilakukan melalui rapat
pimpinan. Beberapa kelemahan yang ditemui antara lain pihak manajemen sering
mengalami kesulitan dalam menentukan jenis pelatihan dan jadwal yang sesuai
dengan ketersediaan waktu. Kurangnya perencanaan menyebabkan pengembangan
karyawan tidak berjalan secara kontinyu, padahal karyawan dituntut untuk terus
dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.
·
Sistem Pelaporan Manajemen
·
Dalam penyediaan kebutuhan
informasi bagi pihak manajemen, laporan disusun kembali setiap kali dibutuhkan.
Sejauh ini laporan disusun berdasarkan dokumen fisik dan file yang dimiliki,
belum terintegrasi dalam suatu basis data. Hal ini menyebabkan proses pembuatan
laporan tidak bisa secara instan, butuh waktu untuk merekapitulasi data yang
dibutuhkan, disamping itu tingkat kesalahan informasi yang dihasilkan juga
cukup tinggi.
Kebutuhan
sistem informasi manajemen sumber daya manusia diatas, maka dapat
diidentifikasi beberapa fungsi utama dalam Manajemen SDM Universitas ABC.
Perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM), memiliki fungsi yang digunakan untuk
perencanaan kebutuhan SDM yang diajukan oleh kepala unit satuan kerja sesuai
dengan kebutuhan di unit-unit tersebut. Perekrutan karyawan, terdiri dari
fungsi publikasi kebutuhan SDM, online rekrutmen, seleksi dan penerimaan karyawan.
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) terdiri dari fungsi administrasi serta
Pengembangan SDM. Pelaporan Manajemen, merupakan fungsi yang digunakan untuk
menyiapkan laporan yang dibutuhkan oleh tingkatan manajemen.
3.
KEPUASAN
KERJA
Sikap
emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya merupakan cermin dari
kepuasan kerja. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan
prestasi kerja. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam
pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun
balas jasa itu penting.
Tingkat
kepuasan mutlak tidak ada karena setiap individu karyawan berbeda kepuasannya.
Kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja maka secara relatif
kepuasan kerja karyawan baik. Pengertian Kepuasan Kerja menurut Tiffin dalam Moch. As’ad (1995:104) kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan
terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan
karyawan.
Menurut Malayu(2001:199) Kepuasan kerja
kombinasi dalam dan luar pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dicerminkan oleh
sikap emosional yang seimbang antara balas jasa dengan pelaksanaan
pekerjaannya. Karyawan yang lebih menikmati kepuasan kerja kombinasi dalam dan
luar pekerjaan akan merasa puas jika hasil kerja dan balas jasanya dirasa adil
dan layak.
Menurut Hasibuan (2007) Kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja. karyawan
harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan
kedisiplinan karyawan meningkat. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja,
kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan,
luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam
pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan
memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana
lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja
dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa
walaupun balas jasa itu penting.
Batasan-batasan
mengenai kepuasan kerja
tersebut, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya.
Ini berarti bahwa konsepsi kepuasan kerja melihatnya sebagai hasil interaksi
manusia terhadap lingkungan kerjanya. Di samping itu, perasaan seseorang
terhadap pekerjaan tentulah sekaligus merupakan refleksi dari sikapnya terhadap
pekerjaan. Pada dasarnya kepuasan kerja
merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat
kepuasan yang berbeda–beda sesuai dengan sistem nilai–nilai yang berlaku dalam
dirinya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada masing–masing individu.
Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan
individu, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan, dan
sebaliknya.
Sukses
tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang
dimiliki karena sumber daya manusia berkualitas adalah sumber daya manusia yang
mampu berprestasi secara maksimal. Kepuasan kerja mempunyai peranan penting
terhadap prestasi kerja karyawan, ketika seorang karyawan maerasakan kepuasan
dalam bekerja maka seorang karyawan akan berupa semaksimal mungkin dengan
segenap kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugasnya yang pada akhirnya,
akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan.
Kepuasan
kerja karyawan banyak dipengaruhi oleh sikap pimpinan dalam kepemimpinan yang
sifatnya partisipasi memberikan kepuasan kerja bagi karyawan. Hal ini
disebabkan karyawan ikut aktif dalam memberikan pendapatnya untuk menentukan
kebijaksanan perusahaan. Kepemimpinan otoriter mengakibatkan ketidakpuasan
kerja karyawan. Kepuasan kerja karyawan merupakan kunci pendorong moral
kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja karyawan dalam mendukung terwujudnya
tujuan perusahaan.
Memang tidak mudah memuaskan
karyawan karena kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap
individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda dalam dirinya. Hal
ini sesuai dengan pengertian kepuasan itu sendiri, dimana kepuasan kerja
merupakan keadaan emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dimana
para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini nampak pada sikap karyawan
terhadap pekerjaannya, sikap positif bila puas atau sikap negatif bila tidak
puas.
Ketidakpuasan karyawan dapat
dinyatakan dalam berbagai cara. Misalnya, berhenti bekerja, karyawan mengeluh,
tidak patuh, atau mengelakkan sebagian dari tanggung jawab kerjanya. Namun
adapun lima komponen utama dalam mengukur kepuasan kerja yaitu :
·
Sikap
terhadap kelompok kerja
·
Kondisi umum
pekerjaan
·
Sikap
terhadap perusahaan
·
Keuntungan
secara ekonomi
·
Sikap
terhadap manajemen
Komponen lain dalam pengukuran kepuasan kerja juga
mencakup kondisi psikologis karyawan sehubungan dengan pekerjaannya sendiri dan
kehidupannya secara umum. Hal ini dapat tertuang dalam sikap kerja yang positif
ataupun negatif. Hal lain yang turut mempengaruhi kepuasan kerja seorang
karyawan juga meliputi kesehatan, usia, status sosial, kegiatan sosial dan
politik. Menurut Hasibuan (2007) kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh
faktor-faktor:
·
Balas jasa
yang adil dan layak.
·
Penempatan
yang tepat sesuai dengan keahlian.
·
Berat
ringannya pekerjaan.
·
Suasana dan
lingkungan pekerjaan.
·
Peralatan
yang menunjang pelaksanaan pekerjaan.
·
Sikap
pimpinan dalam kepemimpinannya.
·
Sifat
pekerjaan monoton atau tidak.
Kepuasan
kerja karyawan banyak dipengaruhi oleh sikap pimpinan dalam kepemimpinan.
Kepemimpinan partisipasi memberikan kepuasan kerja bagi karyawan, karena
karyawan ikut aktif dalam memberikan pendapatnya untuk menentukan kebijaksanan
perusahaan. Kepemimpinan otoriter mengakibatkan ketidakpuasan kerja karyawan.
Kepuasan kerja karyawan merupakan kunci pendorong moral kerja,
kedisiplinan dan prestasi kerja karyawan dalam mendukung terwujudnya tujuan
perusahaan.
Menurut Robbins dan Judge (2009) ada 21 faktor yang berhubungan
dengan kepuasan kerja yaitu otonomi dan kebebasan, karir benefit, kesempatan
untuk maju, kesempatan pengembangan karir, kompensasi/gaji, komunikasi antara
karyawan dan manajemen, kontribusi pekerjaan terhadap sasaran organisasi,
perasaan aman di lingkungan kerja, kefleksibelan untuk menyeimbangkan
kehidupan dan persoalan kerja, keamanan pekerjaan, training
spesifik pekerjaan, pengakuan manajemen terhadap kinerja karyawan,
keberartian pekerjaan, jejaring, kesempatan untuk menggunakan kemampuan
atau keahlian, komitmen organisasi untuk pengembangan, budaya perusahaan secara
keseluruhan, hubungan sesama karyawan, hubungan dengan atasan langsung,
pekerjaan itu sendiri, keberagaman pekerjaan.
Pada Universitas ABC jika tiap
orang menerima peningkatan gaji 5 persen adalah sulit untuk
mendapatkan penyelesaian reward. Namun demikian jika kenaikan gaji dikaitkan
langsung dengan kinerja, seorang karyawan yang menerima peningkatan
gaji yang besar hal ini akan lebih mungkin mengalami perasaan penyelesaian dan
kepuasan. Ada lima komponen utama kepuasan kerja yaitu:
·
Sikap
terhadap kelompok kerja
·
Kondisi umum
pekerjaan
·
Sikap
terhadap perusahaan
·
Keuntungan
secara ekonomi
·
Sikap
terhadap manajemen
Komponen lain mencakup kondisi
pikiran karyawan tentang pekerjaan itu sendiri dan kehidupan secara umum.
Sikap seorang karyawan terhadap pekerjaan mungkin positif atau negative.
Kesehatan, usia, tingkat aspirasi, status sosial, kegiatan sosial
dan politik dapat mempengaruhi kepuasan kerja.
Menurut
Kreitner dan Kinicki (2005) (12) terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya
kepuasan yaitu:
·
Need fulfillment (pemenuhan kebutuhan). Model ini mengajukan bahwa
kepuasan ditentukan tingkatan karakteristik pekerjaan yang
memungkinkan kesempatan pada individu untuk memenuhi kebutuhannya.
·
Discrepancies
(perbedaan). Model ini menyatakan bahwa kepuasan merupakan suatu hasil memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan
dan yang diperoleh individu dari pekerjaan. Apabila harapan lebih besar
daripada apa yang diterima, orang akan tidak puas. Sebaliknya
diperkirakan individu akan puas apabila mereka menerima manfaat diatas harapan.
·
Value attainment (pencapaian
nilai). Gagasan value attainment
adalah bahwa kepuasan merupakan hasil dari persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan
nilai kerja individual yang penting.
·
Equity (keadilan).
Dalam model ini dimaksudkan bahwa kepuasan merupakan fungsi dari seberapa adil
individu diperlakukan di tempat kerja. Kepuasan merupakan hasil dari persepsi
orang bahwa perbandingan antara hasil kerja dan inputnya relatif lebih
menguntungkan dibandingkan dengan perbandingan antara keluaran dan masukkan
pekerjaan lainnya.
·
Dispositional/genetic components (komponen genetik). Beberapa rekan kerja atau
teman tampak puas terhadap variasi lingkungan kerja, sedangkan lainnya
kelihatan tidak puas. Model ini didasarkan pada keyakinan bahwa kepuasan kerja
sebagian merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetik.
Model menyiratkan perbedaan individu hanya mempunyai
arti penting untuk menjelaskan kepuasan kerja seperti halnya karakteristik
lingkungan pekerjaan.
Selain itu, berikut juga
faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan di Universitas ABC
adalah:
·
Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.
·
Keamanan
kerja. Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan
pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan
selama kerja.
·
Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan
ketidakpuasan, dan jarang
orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.
·
Perusahaan
dan manajemen, Perusahaan dan manajemen
yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.
Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan.
·
Supervisi,
bagi karyawan supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus
atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over
(menyerah).
·
Faktor intrinsik dari pekerjaan, Atribut yang ada pada pekerjaan
mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan
tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
·
Kondisi
kerja, Termasuk di sini adalah kondisi
tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir.
·
Aspek sosial
dalam pekerjaan, Merupakan salah satu
sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang
puas atau tidak puas dalam kerja.
·
Komunikasi, Komunikasi yang lancar antar
karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya.
Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan
mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam
menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
·
Fasilitas
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
·
Berdasarkan
indikator yang menimbulkan kepuasan kerja tersebut di atas akan dapat dipahami
sikap individu terhadap pekerjaan yang dilakukan. Karena setiap individu akan
memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang
berlaku pada dirinya. Ini disebabkan adanya perbedaan persepsi pada
masing-masing individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan
keinginan individu tersebut maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang
dirasakannya. Oleh karenanya sumber kepuasan seorang karyawan secara subyektif
menentukan bagaimana pekerjaan yang dilakukan memuaskan. Meskipun untuk batasan
kepuasan kerja ini belum ada keseragaman tetapi yang jelas dapat dikatakan
bahwa tidak ada prinsip-prinsip ketetapan kepuasan kerja yang mengikat dari
padanya.
Ada
beberapa pengaruh kepuasan kerja di suatu perusahaan:
·
Terhadap
Produktivitas
Orang berpendapat bahwa
produktivitas dapat dinaikkan dengan meningkatkan kepuasan kerja. Kepuasan
kerja mungkin merupakan akibat dari produktivitas atau sebaliknya.
Produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya
jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa apa yang telah dicapai perusahaan sesuai
dengan apa yang mereka terima (gaji/upah) yaitu adil dan wajar serta
diasosiasikan dengan performa kerja yang unggul. Dengan kata lain bahwa
performansi kerja menunjukkan tingkat kepuasan kerja seorang pekerja, karena
perusahaan dapat mengetahui aspek-aspek pekerjaan dari tingkat keberhasilan
yang diharapkan.
·
Ketidakhadiran (Absenteisme)
Menurut Porter dan Steers,
ketidakhadiran sifatnya lebih spontan dan kurang mencerminkan ketidakpuasan
kerja. Tidak adanya hubungan antara kepuasan kerja dengan ketidakhadiran.
Karena ada dua faktor dalam perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan
untuk hadir.
Sementara itu menurut Wibowo
(2007:312) “antara kepuasan dan ketidakhadiran/kemangkiran menunjukkan korelasi
negatif”. Sebagai contoh perusahaan memberikan cuti sakit atau cuti kerja
dengan bebas tanpa sanksi atau denda termasuk kepada pekerja yang sangat puas.
·
Keluarnya
Pekerja (Turnover)
Sedangkan berhenti atau keluar dari
pekerjaan mempunyai akibat ekonomis yang besar, maka besar kemungkinannya
berhubungan dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Robbins (1998), ketidakpuasan
kerja pada pekerja dapat diungkapkan dalam berbagai cara misalnya selain dengan
meninggalkan pekerjaan, mengeluh, membangkang, mencuri barang milik
perusahaan/organisasi, menghindari sebagian tanggung jawab pekerjaan mereka dan
lainnya.
·
Respon
terhadap Ketidakpuasan KerjaMenurut Robbins (2003) ada empat cara tenaga kerja
mengungkapkan ketidak puasan yaitu:
Keluar (Exit)
yaitu meninggalkan pekerjaan termasuk mencari pekerjaan lain.
Menyuarakan (Voice)
yaitu memberikan saran perbaikan dan mendiskusikan masalah dengan atasan untuk
memperbaiki kondisi.
Mengabaikan (Neglect)
yaitu sikap dengan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk seperti sering absen
atau semakin sering membuat kesalahan.
Kesetiaan (loyality)
yaitu menunggu secara pasif samapi kondisi menjadi lebih baik termasuk membela
perusahaan terhadap kritik dari luar.
3.1
MENINGKATAN KEPUASAN KERJA
Kepuasan kerja bukan hanya
mengurangi stress, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kinerja, mengurangai
perhatian karyawan dan ketidakhadiran. Berdasarkan pengetahuan terbaru,
berikut peningkataan kepuasan kerja:
·
Membuat Pekerjaan Menjadi Menyenangkan, dimana perusahaan dan organisasi membentuk budaya
organisasi yang fun atau menyenangkan bagi para karyawan sehingga membuat
pekerjaan lebih menyenangkan, tetapi tidak menghilangkan kebosanan dan
mengurangi kesempatan bagi ketidakpuasan.
·
Memiliki gaji, benefit dan kesempatan promosi yang adil, terdapat berbagai cara dimana
organisasi secara khusus mencoba memmbuat karyawan mereka puas
·
Menyesuaikan orang dengan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan
kahlian mereka, memberikan
pekerjaan yang sesuai merupakan hal yang paling penting untuk memuaskan
karyawan, tetapi sering diabaikan. Tentu saja, ini diasumsikan bahwa organisasi
mengetahui minay dan keahlian seseorang. Perusahan dengan manajemen SDM yang
baik memberikan perhatian dalam menemukan minat dan eahlian dari orang yang
akan dipekerjakan dan karyawan yang sudah ada, agar sesuai dengan pekerjaan
mereka.
·
Mendesain Pekerjaan agar menarik dan menyenangkan, selain menemukan orang yang tepat
dalam suatu pekerjaan dan juga menyarankan desain pekerjaan yang sesuai dengan
orangnya. Desain kerja untu membantu memotivasi dan menyenangkan karyawan,
contohnya adalah dengan memberikan tanggung jawab lebih dan embentuk lebh
banyak variasi, arti, identitas, otonomi, dan uman balik.
Menurut (rigio, 2005) , peningkatan
kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Melakukan perubahan struktur kerja, misalnya
dengan melakukan perputaran pekerjaan(job rotation), yaitu sebuah sistem
perubahan pekerjaan dari salah satu tipe tugas ke tugas yang lainnya yang
disesuaikan dengan(job description). Cara kedua yang
harus dilakukan adalah dengan pemekaran(job enlargement), atau perluasan
satu pekerjaan sebagai tambahan dan bermacam-macam tugas pekerjaan. Praktik
untuk para pekerja yang menerima tugas-tugas tambahan dan bervariasi dalam
usaha untuk membuat mereka merasakan bahwa mereka adalah lebih dari sekedar
anggota dari perusahaan.
Melakukan perubahan struktur
pembayaran, perubahan sistem pembayaran ini dilakukan dengan berdasarkan pada
keahliannya(skill-based pay), yaitu pembayaran dimana para pekerja
digaji berdasarkan pengetahuan dan keterampilannya daripada posisinya di
perusahaan. Pembayaran kedua dilakukan berdasarkan jasanya(merit pay),
sistem pembayaran dimana pekerja digaji berdasarkan performancenya,
pencapaian finansial pekerja berdasarkan pada hasil yang dicapai oleh individu
itu sendiri. Pembayaran yang ketiga adalah(Gainsharing)atau pembayaran
berdasarkan pada keberhasilan kelompok keuntungan dibagi kepada seluruh anggota
kelompok.
Pemberian jadwal kerja yang
fleksibel, dengan memberikan kontrol pada para pekerja mengenai pekerjaan
sehari-hari mereka, yang sangat penting untuk mereka yang bekerja di daerah
padat, dimana pekerja tidak bisa bekerja tepat waktu atau untuk mereka yang
mempunyai tanggung jawab pada anak-anak.(Compressed work week)pekerjaan mingguan yang dipadatkan, dimana jumlah
pekerjaan per harinya dikurangi sedang jumlah jam pekerjaan per hari
ditingkatkan. Para pekerja dapat memadatkan pekerjaannya yang hanya dilakukan
dari hari Senin hingga Jum’at, sehingga mereka dapat memiliki waktu longgar
untuk liburan. Cara yang kedua adalah dengan sistem penjadwalan dimana seorang
pekerja menjalankan sejumlah jam khusus per minggu (Flextime), tetapi
tetap mempunyai fleksibilitas kapan mulai dan mengakhiri pekerjaannya.
Mengadakan program yang mendukung,
perusahaan mengadakan program-program yang dirasakan dapat meningkatkan
kepuasan kerja para karyawan, seperti; (health center) puskesmas,(profit
sharing),membicarakan
pembagiab keuntungan, dan lain-lain. (rigio, 2005)
3.2 KORELASI/HUBUNGAN KEPUASAN KERJA
Hubungan
antara kepuasan kerja dengan variabel lain dapat bersifat positif atau negatif.
Kekuatan hubungan mempunyai rentang dari lemah dampai kuat. Menurut Kreitner
dan Kinicki (2001;226) Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa atasan dapat
mempengaruhi dengan signifikan variabel lainnya dengan meningkatkan kepuasan
kerja. Beberapa korelasi kepuasan kerja sebagai berikut :
·
Motivasi
Antara
motivasi dan kepuasan kerja terdapat hubungan yang positif dan signifikan. Karena
kepuasan dengan pengawasan/supervisi juga mempunyai korelasi signifikan dengan
motivasi, atasan/manajer disarankan mempertimbangkan bagaimana perilaku mereka
mempengaruhi kepuasan pekerja sehingga mereka secara potensial dapat
meningkatkan motivasi pekerja melalui berbagai usaha untuk meningkatkan
kepuasan kerja.
·
Pelibatan
Kerja
Hal ini
menunjukkan kenyataan dimana individu secara pribadi dilibatkan dengan peran
kerjanya. Karena pelibatan kerja mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, dan
peran atasan/manajer perlu didorong memperkuat lingkungan kerja yang memuaskan
untuk meningkatkan keterlibatan kerja pekerja.
·
Organizational
commitment
Mencerminkan
tingkatan dimana individu mengidentifikasi dengan perusahaan dan mempunyai
komitmen terhadap tujuannya. Antara komitmen organisasi dengan kepuasan
terdapat hubungan yang siknifikan dan kuat, karena meningkatnya kepuasan kerja
akan menimbulkan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya komitmen yang
lebih tinggi dapat meningkatkan produktivitas kerja.
·
Ketidakhadiran
(Absenteisme)
Antara
ketidakhadiran dan kepuasan terdapat korelasi negatif yang kuat. Dengan kata
lain apabila kepuasan meningkat, ketidakhadiran akan turun.
·
Perasaan
stres
Antara
perasaan stres dengan kepuasan kerja menunjukkan hubungan negatif dimana dengan
meningkatnya kepuasan kerja akan mengurangi dampak negatif stres.
·
Prestasi
kerja/kinerja
Terdapat hubungan positif rendah
antara kepuasan dan prestasi kerja. Dikatakan kepuasan kerja menyebabkan
peningkatan kinerja sehingga pekerja yang puas akan lebih produktif. Di sisi
lain terjadi kepuasan kerja disebabkan oleh adanya kinerja atau prestasi kerja
sehingga pekerja yang lebih produktif akan mendapatkan kepuasan.
PENUTUP
Berdasarkan kajian yang membahas tentang kepuasan kerja, maka kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut :
Kepuasan
kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja.
Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih
mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
Tolak ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada karena setiap individu
karyawan berbeda kepuasannya. Kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan,
moral kerja dan turnover kecil maka secara relatif kepuasan kerja karyawan
baik.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar